Search for:
Beberapa Hal Harus Kamu Lakukan Saat Merasa Tidak Berharga

Sepertinya, hampir semua orang pernah merasakan berada di titik terendah dalam hidup. Merasa sangat sedih dan tertekan saat terus menerus menghadapi penolakan, pengabaian, perpisahan, maupun kegagalan. Sehingga, pada akhirnya kamu mulai mempertanyakan diri sendiri dan mulai merasa worthless.

Feeling worthless atau perasaan nggak berharga adalah suatu keadaan di mana kamu merasa bahwa kamu nggak layak untuk apa yang kamu miliki dalam hidup. Kamu merasa nggak pantas untuk apapun dan untuk siapapun. 

Keadaan tersebut dapat menyerang siapa saja dan tentunya nggak mudah untuk dihindari. Namun, jika kamu sedang merasakan hal ini, berikut hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi dan mengalahkan perasaan worthless.

Akui dan Terima Keadaan Kamu

Merasa nggak berguna dan nggak berharga saat berada di titik terendah dalam hidup adalah salah satu hal yang manusiawi. Kamu nggak perlu berpura-pura bahwa keadaan kamu baik-baik saja, dan kamu nggak perlu berusaha untuk menyangkal apa yang sedang terjadi. Perasaan tersebut nyata, dan itu adalah sesuatu yang perlu diterima.

Melarikan diri dari hal tersebut hanya menghentikan kamu untuk mengatasi masalah yang mungkin menjadi penyebabnya. Menerima keadaan diri sendiri adalah salah satu bentuk self-love. Jika kamu telah menerima dan mencintai diri sendiri, kamu akan tau apa yang harus kamu lakukan dan tau apa yang terbaik bagi diri kamu.

Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Terkadang, membandingkan diri dengan orang lain dapat membantu kamu untuk berproses dan menginspirasi kamu untuk terus berprogres. Di sisi lain, terus membandingkan diri dapat membuat kamu kehilangan diri kamu sendiri. Jangan fokus pada bagaimana pencapaian kamu dibandingkan dengan orang lain, karena hidup bukanlah sebuah kompetisi.

Hidup adalah tentang sebuah perjalanan, untuk menemukan sesuatu, untuk menjadi sesuatu, untuk belajar, untuk menciptakan. Perjalanan itu tidak ada hubungannya dengan seberapa baik orang lain melakukannya, seberapa cepat orang mencapainya, atau apa yang mereka miliki. Namun, ini berkaitan dengan apa yang ingin kamu lakukan, dan ke mana kamu ingin pergi.

Menerima Semua Kekurangan Diri dan Improve

Tak ada gading yang tak retak, begitupun kamu, kita semua. Tidak ada yang sempurna, secara intelektual kita mengetahui hal itu, tetapi secara emosional kita tampaknya merasa buruk ketika kita tidak mencapai kesempurnaan. Terima saja bahwa kamu memang tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Tentu saja, setelah menerima semua kelebihan dan kelemahan kamu, teruslah untuk terus meningkatkannya, tapi jangan pernah berpikir bahwa kamu akan mencapai kesempurnaan. Jika kamu melihatnya dengan cara yang berbeda, ketidaksempurnaan itulah yang membuat kamu menjadi diri sendiri, dan membuat kamu sangat berharga.

Carilah Dukungan

Orang yang kamu cintai ada karena suatu alasan. Saat kamu merasa perlu membicarakan perasaan dan keadaan kamu, bersandarlah pada orang yang kamu percayai. Terkadang, mempunyai support system di sekitar kita yang bersedia untuk mendengarkan dan memberikan validasi, serta memberikan dukungan, akan sangat membuat kita merasa lebih baik.

Selain itu, sangat tidak ada salahnya jika kamu mencari bantuan profesional untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang lebih baik terhadap kondisi mental yang sedang kamu alami.

Sumber : https://www.beautynesia.id/berita-others/hal-ini-harus-kamu-lakukan-saat-merasa-nggak-berharga/b-237036

Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil

Mengacu pada surat edaran Kemenkes, jenis vaksin yang digunakan untuk ibu hamil adalah Pfizer, Moderna, dan Sinovac. Selain itu, perkumpulan obstetri dan ginekologi mengizinkan wanita hamil untuk melakukan vaksinasi tanpa ada rekomendasi dari spesialis obstetri ginekologi. Mereka juga bisa melakukan vaksinasi mulai dari usia kehamilan 13 minggu.

Setelah penyuntikan vaksinasi COVID-19, setiap wanita hamil juga akan tetap dipantau kondisinya dan setiap perkembangan akan dicatat kehamilan sampai persalinan oleh kader, PLKB dan bidan, di bawah koordinasi POGI cabang dan Pengurus Daerah IBI. Tak hanya itu, nantinya pemantauan pasca vaksinasi pada ibu hamil menggunakan formulir pemantauan khusus yang sudah disepakati antara Kemenkes, BKKBN, Dinkes, POGI, dan IBI.

Atau jika kamu masih ragu untuk mendapatkan vaksin selama hamil, tidak ada salahnya untuk menemu dan bicara dengan dokter di rumah sakit. Kamu bisa buat janji dengan rumah sakit sekarang di aplikasi Halodoc supaya tidak perlu repot antre. Setelah itu, kamu bisa meminta saran dari dokter kehamilan mengenai apa saja yang perlu diperhatikan mengenai vaksin COVID-19 untuk ibu hamil, terutama mengenai efek sampingnya.

Sumber : https://www.halodoc.com/artikel/ini-daftar-vaksin-yang-boleh-digunakan-untuk-ibu-hamil

Ibu Hamil dengan 4 Kondisi Ini Berisiko Besar Terpapar COVID-19

Ibu hamil termasuk dalam kelompok yang rentan terpapar COVID-19. Akan tetapi, dokter menegaskan tak semua ibu hamil melainkan dengan kondisi tertentu sehingga meningkatkan risiko terpapar sekaligus terinfeksi COVID-19.

Hal itu dijelaskan oleh dokter spesialis kandungan, dr.Anggia Melanie Lubis, SpOG, dalam acara Hidup Sehat, TvOne. Menurutnya, ada 4 kondisi yang membuat ibu hamil lebih rentan terpapar COVID-19 diantaranya usia, komorbid, berat badan, serta profesi.

“Pertama pada ibu hamil yang di usia 35 tahun. Lalu, dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung bawaan, dan ginjal,” kata dr Anggia Melanie, Jumat 6 Agustus 2021.

Selanjutnya, berat badan yang dimaksud adalah ibu hamil yang termasuk ke dalam indeks massa tubuh angka 30 atau kelompok obesitas. Keempat, ibu hamil yang memiliki profesi sebagai tenaga kesehatan sehingga lebih rentan terpapar dan terinfeksi.

“Sebagaimana kita tahu, ibu hamil di usia 35 tahun dan komorbid, organ di tubuh sudah bekerja berat otomatis akan turunkan imunitas. Di situ membuat mereka lebih rentan terpapar,” ujar dia.

ibu hamil mendapat vaksin COVID-19 buatan Pfizer di Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan. Foto : detik.com

Sementara pada pasien ibu hamil yang obesitas, tentu akan mengalami penurunan imunitas akibat kelebihan berat badannya. Untuk itu, dianjurkan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi tersebut agar segera melakukan vaksinasi.

“Harus vaksin terutama kelompok yang dengan risiko tinggi,” katanya. 

Apabila sudah terlanjur terpapar COVID-19, dokter Anggia menegaskan tak perlu panik menghadapinya. Ibu hamil tetap di rumah dan segera konsultasi ke dokter melalui telemedicine.

“Sehingga dokter bisa menetapkan kondisi ibu hamil, apakah tanpa gejala, ringan, sedang, atau berat. Karena akan diberi terapi sesuai gejala masing-masing,” tutur dr Anggia.

Pada ibu hamil yang didiagnosis tanpa gejala maupun gejala ringan, dokter akan anjurkan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman). Ibu hamil dapat melakukan isolasi mandiri dengan istirahat, konsumsi vitamin dan bekali diri dengan termogun serta oksimetri.

“Dianjurkan juga tetap memantau gerak janin, di mana gerakannya minimal 10 kali sejak bangun hingga tidur malam hari, yang artinya kondisi janin masih baik,” kata dia lagi.

Sumber: VIVA NEWS https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1393481-ibu-hamil-dengan-4-kondisi-ini-berisiko-besar-terpapar-covid-19?page=3&utm_medium=page-3

Kapan Bayi Mulai Tumbuh Gigi?

Bayi yang baru lahir biasanya memiliki 20 gigi susu yang tersembunyi di bawah garis gusi.

Melansir dari Medical News Today, tumbuh gigi adalah proses erupsi gigi melalui gusi.

Tumbuh gigi biasanya dimulai sekitar pertengahan tahun pertama kehidupan. Selama tumbuh gigi, bayi mungkin merasa sakit dan tidak nyaman, dan mereka dapat menunjukkannya dengan berbagai cara.

Menurut American Dental Association (ADA), gigi susu cenderung muncul dalam 6-8 bulan pertama kehidupan.

Gigi pertama yang tumbuh biasanya adalah gigi depan di bagian atas atau bawah mulut. Dokter gigi menyebut gigi ini sebagai gigi seri.

Tingkat dan urutan munculnya gigi lain dapat berbeda pada tiap bayi Berikut ini lini masa tumbuh gigi berdasarkan usia bayi.

  • gigi seri tengah bawah (dua gigi depan bawah): 6–10 bulan
  • gigi seri tengah atas (dua gigi depan atas): 8–12 bulan
  • gigi seri lateral atas (di kedua sisi gigi seri tengah): 9–13 bulan
  • gigi seri lateral bawah (di kedua sisi gigi seri tengah): 10–16 bulan
  • geraham pertama atas (di belakang gigi taring atas): 13–19 bulan
  • geraham pertama bawah (di belakang gigi taring bawah): 14–18 bulan
  • gigi taring atas: 16–22 bulan gigi taring bawah: 17–23 bulan
  • geraham kedua bawah: 23–31 bulan
  • geraham kedua atas: 25–33 bulan

Jika tidak ada tanda-tanda gigi yang muncul pada usia sekitar 6 atau 7 bulan, ini biasanya tidak perlu dikhawatirkan

Namun, jika sampai lebih dari 12 bulan belum juga muncul gigi, mungkin hal ini bisa didiskusikan dengan dokter.

Selain itu, ketika muncul gigi, bayi secara rutin juga harus mulai diperiksakan kesehatan gigi dan mulutnya. Lapisan email pada gigi susu lebih tipis dari pada gigi dewasa, sehingga lebih rentan terhadap gigi berlubang.

Untuk itu, pemeriksaan gigi rutin penting dilakukan untuk bayi.

Tanda-tanda tumbuh gigi

Ada beberapa indikasi bayi tumbuh gigi, antara lain sebagai berikut.

  • peningkatan iritabilitas
  • rewel
  • meneteskan air liur
  • ruam di sekitar mulut, leher, atau dada, yang disebabkan oleh air liur
  • menggerogoti atau menggigit benda
  • menggosok pipi
  • menarik telinga
  • sedikit peningkatan suhu tubuh tetapi bukan demam

Pada usia sekitar 6 bulan, saat tumbuh gigi biasanya dimulai, sistem kekebalan bayi mulai berkembang, dan antibodi yang diterima dari plasenta mulai berkurang.

Selama waktu ini, bayi mulai terserang pilek dan penyakit virus lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kapan Bayi Mulai Tumbuh Gigi?”, Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2021/08/04/180200468/kapan-bayi-mulai-tumbuh-gigi-?page=2.
Penulis : Galih Pangestu Jati
Editor : Galih Pangestu Jati

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L


Manfaat Kesehatan Daging Kambing yang Jarang Diketahui

Daging kambing menjadi salah satu sumber protein hewani yang disukai banyak orang. Meski digadang-gadang bisa memicu kolesterol, daging kambing ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan.

Melansir laman Live Strong, daging kambing ternyata memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang rendah daripada daging sapi.

Dalam 100 gram daging kambing mengandung sekitar 109 kalori dan 20,6 gram protein. Sementara itu, kandungan lemaknya hanya mencaai dua gram saja. Daging kambing juga rendah kolesterol dan tidak mengandung karbohidrat.

Nutrisi daging kambing Dibandingkan jenis daging merah lainnya, daging kambing mengandung lemak dan kolesterol yang lebih rendah. Daging kambing juga mengandung zat besi bermanfaat dan potassium penstabil jantung dalam jumlah besar.

Kadar natrium dalam daging kambing juga tergolong rendah sehingga bermanfaat bagi penderita gangguan tekanan darah.

Sayangnya, dalam penelitian yang diterbitkan di Journal of Food Protection 2015 membuktikan daging kambing mengandung sejumlah patogen berbahaya bagi kesehatan. Itu sebabnya, diperlukan proses pengolahan yang tepat untuk meminimalisir risiko kesehatan saat mengonsumsi daging kambing.

Manfaat daging kambing

Dengan teknik pengolahan yang tepat daging kambing akan membrikan sejumlah manfaat kesehatan berikut:

1. Mencegah kanker Daging kambing mengandung CLA (Conjugated Linoleic Acid) atau asam lemak yang dikenal mampu mencegah kanker dan meminimalisir risiko peradangan. Selain itu, kandungan selenium dan klorin dalam daging kambing juga membantu kita untuk meminimalisir risiko terkena penyakit kronis ini.

2. Anti inflamasi Daging kambing mengandung zat anti-inflamasi. Oleh karena itu, mengonsumsinya bisa menghambat peradangan di pembuluh darah dan menstabilkan detak jantung.

3. Membakar lemak Daging kambing kaya akan vitamin B yang membantu tubuh membakar lemak. Selain itu, daging kambing juga rendah lemak jenuh dan tinggi protein sehingga cocok dikonsumsi saat diet.

4. Mencegah anemia Mengonsumsi daging kambing membantu mencegah anemia, khususnya untuk ibu hamil dan wanita menstruasi. Daging kambing juga membantu meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah bayi cacat lahir.

5. Meningkatkan kesehatan mental Kandungan vitamin B12 dalam daging kambing membantu meredakan stres dan depresi.

6. Mencegah stroke dan gangguan ginjal Daging kambing juga tinggi asam lemak Omega 3 namun rendah kalium dan natrium. Itu sebabnya, mengonsumsi daging kambing membantu mencegah penyakit ginjal dan stroke.

7. Menjaga kesehatan tulang Daging kambing mengandung kadar kalsium yang tinggi yang membantu mendukung pertumbuhan tulang.

Efek samping

Meski demikian, mitos mengenai daging kambing sebagai penyebab kolesterol dan tekanan darah memang ada benarnya juga.

Namun, hal itu hanya terjadi jika dikonsumsi berlebihan. Tak masalah jika kita mengonsumsi daging kambing karena manfaatnya yang tingi. Tapi, kita harus mengonsumsinya dalam jumlah yang wajar agar efek samping tersebut tidak terjadi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “7 Manfaat Kesehatan Daging Kambing yang Jarang Diketahui”, Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2020/08/02/090400968/7-manfaat-kesehatan-daging-kambing-yang-jarang-diketahui?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini